Kamis, 25 Juni 2009
Kisah cinta Restu yang penuh liku-liku

Berawal dari sebuah harapan kecil yang menghampiri hidupnya yang sepi, sepi dimana ia tak miliki rasa untuk sebuah cinta. Trauma yang mendalam tentang cinta pernah hancurkan jiwanya, sampai ia membatasi hidupnya dari sentuhan cinta. Cukup lama ia terkungkung oleh kegelisahan dan keputus-asaan yang membuat hidupnya tak lagi merasa damai.
Kegelisahan yang selalu warnai hari – harinya, seakan menjadi siksaan yang telah lama membuat hatinya kebal. Siksaan yang hebat dalam batin yang membuatnya menjadi diri yang sebenarnya bukanlah dirinya. Setiap langkah hidupnya adalah pembenaran dari setiap tetesan air mata yang telah ia teteskan. Pagi menjadi malam, malam menjadi pagi, semuanya ia rasakan terbalik, sayang jadi benci benci jadi sayang, dalam hatinya berkata setidaknya ia pernah merasakan, malam dan pagi, sayang dan benci selanjutnya biarlah ia sendiri yang definisikan hidupnya.
Saat – saat itu adalah saat – saat terberat dari hidupnya, ia tak lagi miliki cahaya kasih ia berubah menjadi sosok yang ia sendiri tak mengenalnya. Merubah diri menjadi bentuk yang terlalu tak lazim untuk ukuran seorang wanita. Penderitaan yang ia pernah hadapi menuntunnya menjadi sosok yang sama sekali bukan dirinya. Dirinya yang begitu tidak yakin ia rubah dengan semua optimismenya, ia lahir dengan keterbatasan ia rubah semuanya dengan membuka semua sisi kelebihannya, ia yang lemah berubah menjadi sosok yang kuat, dari seseorang yang sama sekali tidak mencintai dirinya ia rubah menjadi amat sangat mencintai dirinya, gaya hidup yang sama sekali sepi ia rubah dengan semua hingar bingar dan keramaian, semua dilakukan dengan begitu cepat bagaikan seekor bunglon yang mudah merubah warna tubuhnya tiap kali ia melompat dari dahan satu ke dahan yang lain hanya untuk melindungi dirinya dari ancaman,yang kemudian yang ia fikirkan hanyalah perubahan dengan tujuan bahwa ia ingin tak pernah tergantung atas apapun termasuk cinta karena cinta pernah membunuh Restu yang dulu.
Semua pemikiran dan perasaan yang ia miliki ia rubah dengan pemikiran dan perasaan yang mencerminkan ke-engganannya untuk lemah. Ia berfikir jika ia lemah maka ia akan kalah, dan ia tak mau lagi mengalami satu rasa kekalahan yang diikuti dengan kesalahan yang amat menyiksanya.
Dengan hanya waktu yang cukup singkat ia jalankan pribadinya yang baru semua terasa lebih hidup dan lebih bermakna dan ia menikmati itu semua ia merasa menjadi dirinya sendiri, tumbuhlah kebanggaan atas dirinya dan ia pun menjadi tau pentingnya kepercayaan diri atas semua kemampuan yang dimiliki. Dia lakukan itu semua hanya dengan satu kunci “The Power of Mind”. Ia pun berhasil melakukan transformasi yang ia inginkan. Kehidupan terasa lebih menyenangkan jauh berbeda dengan kehidupan ia dahulu yang selalu menjadi kaum yang sama sekali tidak dianggap ada oleh sekelilingnya. Dia pun bahagia cinta yang ia dapatkan sekarang adalah cinta yang ia bentuk sendiri untuk mencintai dirinya sendiri dan cinta itu menjaganya untuk tidak disakiti untuk ke 1001 kalinya. Perasaan tenang pun akhirnya dia dapatkan karena ia yakin jika dirinya ternyata mampu melewati fase terberat dalam hidupnya dengan baik.
Ternyata perasaan itu hanya dapat dinikmati bukan untuk dimiliki karena kita hanya berhak untuk menikmatinya dan dengan jangka waktu tertentu. Ia menjalani hidupnya yang baru selama dua tahun dan selama dua tahun itulah tahun – tahun yang ia rasakan amat sangat bermakna walau dengan kesendirian tanpa cinta namun ia mampu menikmati perasaan termulia yaitu mencintai dirinya sendiri. Waktu demi waktu berlalu sebuah kejutan muncul entah kejutan ini adalah hadiah dari Tuhan atas kesabarannya menunggu untuk sebuah cinta ataukah kejutan ini adalah sebuah cobaan ? ia tak pernah tau yang ia rasakan saat itu adalah jatuh cinta.
Awal cinta itu ada ia rasakan kembali, ia amat sangat takut, ia merasa tak percaya rasa itu ada, ia mencoba untuk mengelak mengakuinya, ia menjaga dan memproteksi dirinya sendiri dengan benteng yang begitu besar yaitu menjalaninya tidak dengan hati namun dengan kekuatan fikiran, ia miliki alasan yang kuat untuk itu ia tak mau kembali jatuh sakit. Kisah ini terus berlanjut sebuah hubungan cinta pun terajut, ia susun semua rajutan dengan rapi dan hati – hati agar dapat terlihat indah. Awalnya cinta itu tidak sama sekali mempengaruhi fikirannya ia menjalankan itu dengan tenang, ia manikmati ketenangan itu. Perjalanan cinta yang ia miliki itu membuatnya terhanyut dan tenggelam dalam perasaan, tanpa ia sadari ia merubah dasarnya dari fikiran menjadi perasaan. Lambat laun perasaan itu mulai muncul, hingga di tengah perjalanannya suatu waktu ia tersadar kemudian ia goyah, dan bertanya – tanya kemanakah fikiranya? mengapa sekarang perasaanlah yang merajai dirinya.
Perang batin terjadi begitu sengitnya ia tak ingin perasaan yang merajainya, karena ia tau perasaan hanya akan membuatnya sakit dan ia ta ingin perasaan terkutuk itu singgahi hidupnya lagi. Tak ada satupun tempat untuk mencari jawabannya selain dirinya sendiri, ia terus bergulat dan berkutat mencari sebuah jawaban dalam peperangan batin yang sengit. Dirinya yang dulu kembali masuki dirinya hingga terbentuklah dua kepribadian dalam dirinya yaitu seorang Restu yang baru yang memiliki pikiran lebih rasional dengan seorang Restu lama yang memiliki perasaan lebih lembut. Kedua Restu terus menerus berdebat tak ada penengah dan tak ada bantuan ia tersudut hanya diliputi kebingungan yang amat sangat. Restu baru tak rela semua perubahan yang ada harus menjadi sia – sia dan harus kembali menjadi seseorang yang lemah, Restu baru selalu menjawab dengan jawaban – jawaban yang penuh logika dan tersusun rapi sesuai dengan definisi – definisinya, Restu lama pun enggan mengalah dia keluarkan mengenai indahnya suatu perasaan betapa kata hati adalah kebenaran dan kebenaran keluar dari sebuah perasaan. Pergelutan panjang terjadi jiwa semakin tak menentu arahnya hingga ia kehilangan arah ia ta lagi menjadi Restu yang baru atau menjadi Restu yang lama ia kini hanya seorang Restu dengan kebingungan untuk memilih sebuah kepribadian. Ia tau bahwa harus ada keseimbangan dan memang jalan keluarnya adalah keseimbangan karena ia meyakini kedua Restu tadi dua – duanya adalah benar, namun ia tak tau dari mana ia harus memulai.
Ditengah pergulatan itu Restu tetap menjalani cintanya dengan sebuah kebingungan mau seperti apa cara untuk meneruskan merajut cinta yang ia sedang jalani. Tanpa disadari hubungan itu kini berubah yang berawan dari sebuah keindahan harapan menjadi sebuah duri tajam berpuluh – puluh kali pertengakaran, berpuluh – puluh kali insiden saling menyakiti terus terjadi. Restu dihadapkan pada dua pertengkaran hebat pertengkaran batinnya dan pertengaran ia dengan cintanya. Semakin lama semakin menjadi, membuat hidupnya terasa begitu tidak nyaman. Ia semakin apatis terhadap dua pertengkaran itu ia tutup telinga untuk keduanya, ia malah menjadi tak perduli dengan semuanya, ia hanya menikmati dirinya sendiri, dan memutuskan untuk tidak menceritakan kegalauan yang ia rasakan pada cintanya karena ia rasa tak mudah bagi siapapun untuk mengerti masalah yang ada di dirinya. Ia menjadi sangat tidak peduli atas cintanya, masalah batinnya, dan dirinya. Mungkin dapat disimpulkan bahwa ia saat ini menjadi bukan siapa – siapa sama sekali.
Menurutnya keceriaan akan dapat menutupi peperangan yang sedang terjadi di bathinnya, ia menjadi amat ceria tak lain hanya untuk menutupi masalah batin yang sedang ia hadapi, hanya menjadi topeng agar semua ta dapat melihat apa yang ada di dirinya. Sesekali ia lelah untuk terus berpura- pura, berpura – pura pada cintanya dan berpura – pura pada dirinya sendiri. Lagi – lagi ia menjadi amat tersiksa ia ta dapat lagi menikmati setiap langkakh hidupnya karena ia tak miliki lagi dirinya sendiri. Terkadang diam dan tiba – tiba melamun memikirkan hal – hal yang ia sendiripun ta pernah tau untuk apa ia pikirkan.
Dengan berjalannya waktu, setiap kali ia jalani kehidupan cintanya yang ada hanyalah ketidak yakinan, karena cintanya hanya selalu berfikir mengenai dirinya sendiri ta pernah ada kesempatan bagi seorang Restu untuk dapat mengungkapkan apa yang sedang ia hadapi, yang ada hanyalah ke-egoan dari cintanya untuk meminta Restu mengerti apa yang diinginkannya dari sebuah hubungan. Tuntutan itu semakin membuat Restu merasa tak pernah ada, ia harus selalu berpikir mengenai apa yang cintanya mau bukan apa yang Restu mau. Semua menjadi selalu salah satu jalan yang Restu ambil adalah diam dan coba mengikuti keinginan cintanya.
Tanpa ia sadari sesekali dirinya pun tak mampu menahan, ia keluarkan sisi dirinya yang pernah ada dengan semua perasaan tak adil ia marah dan ia emosi, dan yang ada hanyalah sebuah “claim” akan ketidak pengertian ia pada cintanya.
Buntu, ia ta tau harus bagaimana menghadapi semua ini ia tak bisa jadi dirinya sendiri dan ia harus menjadi apa yang cintanya inginkan tiga karakter Restu yang sama sekali Restu tak pernah bisa pilih. Satu adalah Restu yang dulu ( berfikir dengan perasaan), dua Restu yang baru ( berfikir dengan logika), tiga Restu yang diminta ( berfikir seperti yang cintanya mau ).
Bukannya semakin mudah semua malah menjadi semakin rumit, bukannya ada jalan keluarnya semua seakan – akan tak ada lagi jalan keluar.
Ia mencoba untuk dapat nikmati semuanya sekuat tenaga ia coba hayati semua keindahan yang menurutnya ini bukanlah keindahan, ia rubah pola pikirnya untuk sebuah derita dengan menganggapnya sebagai keindahan. Berpura – pura, ya Restu kini semakin jauh terhanyut dalam kepura – puraannya.
Diposkan oleh restu nugraha di 22:09 0 komentar
Label: kisahku
Kamis, 18 Juni 2009
Sepanjang jalan cinta bersemi ( bagian I )

Setelah sekian lama kangen akan suasana kampung halamanku yang di Tegal Jawa- Tengah, akhirnya pada bulan Juli 2001 tahun kemarin aku memutuskan untuk pulang kekampung halaman. 5 tahun di Jakarta terasa lama banget, aku selalu merindukan kota kelahiran ku. Rencana awalnya sih pengin pulang pagi, tapi karena ada kerjaan yang belum selesai akhirnya aku pulang sore. Sesampainya di terminal bis Pulo Gadung, saya cepat-cepat bergegas menuju bis favoritku, saat itu penumpang tidak terlalu ramai, jadi tidak perlu untuk berdesak-desakan seperti hari lebaran. Ternyata tempat duduk hampir penuh, bingung rasanya dalam hati. Hmm,..ada tempat duduk tiga masih kosong satu, ternyata dewi fortuna alias dewi keberuntungan masih berpihak padaku, permisi mbak, masih kosong satu tempat duduk ini, sapaku. Masih, jawabnya pula. Tempat duduk tiga tersebut duduki oleh dua perempuan cantik.
Berangkat dari Pulo Gadung jam 6 sore, saya menumpangi bus AC ekonomi bertarif 25 ribu untuk tujuan Tegal-Pekalongan.
Karena belum pernah naik bus duduk berdampingan dengan perempuan cantik, tak sekalipun saya memejamkan mata. Saya ingin menikmati perjalanan ini dengan seksama, selain itu pengamen yang datang silih berganti membuat saya tak bisa tidur. Sepanjang jalan saya biasa-biasa saja, saya tidak mau di katakan lelaki mata keranjang. Bus melaju dengan kencang, mataku tak kunjung terpejam, tak sepatahpun kata yang terucap dengan seseorang yang duduk disampingku.
Dalam perjalanan ke Tegal-Pekalongan malam itu, bis yang kami tumpangi singgah untuk istirahat kurang lebih setengah jam, saat itu sudah jam 12 pagi. Saya turun dari bus untuk merokok dan ngopi di sebuah warung. Beberapa saat kemudian dua perempuan tadi keluar dari bus lewat di depanku, mungkin ke toilet. Saya masih jual mahal untuk menyapanya terlebih dulu. Padahal selama di perjalanan saya tau dua orang tadi ingin mengajak kenalan denganku, tapi waktu itu saya pura-pura tidur, sehingga mereka mungkin tidak enak sama saya. Setelah waktu istirahat selesai kira-kira jam setengah satu pagi bis-pun melanjutkan perjalannya kembali. Saya tau dua perempuan tadi sudah masuk bis lebih dulu. Sebelum duduk saya mulai membuka pembicaraan lebih dulu, karena saya pikir kalau perempuan lebih dulu kan tidak umum bagi mereka. Turun dimana mbak, sahut-ku. Saya turun di Pemalang jawab perempuan yang rambutnya pendek, kalau yang satunya yang rambutnya panjang turun dimana tanyaku. Sama di Pemalang juga, Cuma yang ini (rambutnya panjang aslinya Purworejo). Halo, nama saya Ririn (yang rambutnya panjang) Saya biasa dipanggil Olin, sambil mengedipkan mata ke arah saya, kalo saya Ningsih (yang rambutnya pendek), singkat dan kedengarannya enak di kuping.
Suasana dingin dan sunyi di dalam bis masih mengambang ketika malam menjelang pagi.
Sejurus kutangkap kilau di kedalaman matanya Ririn. Telaga bening di sana memapar tenang. Namun kutahu riak yang mengalir sedang menghanyutkan sesuatu. Entah apa. Sesuatu yang tidak pernah dapat kutangkap karena terselubung misteri. Dan kucoba mengulurkan tangan persahabatan. Aku terpesona dengan hati bergetar. Napasku tersengal-sengal. Kali ini kurasakan ada pukulan yang menghantam dadaku. Gulita masih pula mengepungku. Gelap. Gelap sekali. Kucoba mengerjap-ngerjapkan mata. Alunan musik menghadirkan nuansa tambah berkesan. Saat Ririn mendekatiku, ada wangi pengharum di tubuhnya yang menyeruak menusuk-nusuk hidungku.
Aku tak ingin karena khayalan ini aku jadi terseret ke dalam tanda tanya. Ya, Tuhan! Aku tidak ingin terus-menerus di dalam alam khayalan begini. Sungguh, aku tidak ingin berada dan tersesat lagi di dalam labirin tanpa jawab, aku tergoda, karena dia (Ririn) menggodaku. Kuhela napas panjang, Aku menggeleng. Apakah khayalan-khayalan itu mungkin hanyalah merupakan rangkaian metafora moral yang seperti sengaja diturunkan dari langit untukku? Entahlah. Sepanjang perjalanan diisi dengan cerita-cerita ringan supaya gak terlalu bosen. Tapi saya cepat-cepat berbalik, lalu pandanganku ku arahkan ke depan sambil duduk.
Di tengah jalan sana pula sesekali hanya terlihat sekelebat cahaya lampu dari beberapa kendaraan yang lalu-lalang. Malam ini semuanya seperti membeku.
Dingin ruang ber-AC di dalam bus malam masih menusuk-nusuk sampai ke tulang sumsum. Perjalanan dan singkat hari-hari kebersamaan memang membawa kenangan yang dalam.
Sampai tidak sadar kalau ada sesuatu yang tidak beres selama perjalanan, dimulai dari pertama kali keluar dari terminal bus Pulo Gadung. Tidak disangka, sudah sampai Tegal jam 4 pagi setelah berjalan selama kurang lebih 7 jam. Saya turun dari bus, tapi sebelumnya saya pamitan dulu, lalu Ririn minta nomor telpon-ku. Dengan rasa bahagia aku berikan nomor HP-ku, karena aku berharap bahwa suatu saat nanti bisa bertemu lagi dengan Ririn.
Sepanjang jalan menuju rumah, pikiranku melayang memikirkan sosok misterius yang hilang terbawa bis malam itu.
Tiga tahun gadis itu menghilang, tanpa kabar, padahal aku berharap dia menelponku. Aku merana karena tiada berita, aku ingin bertemu dia, tapi malang tidak bisa diterima, jangankan untuk bertemu, nomor telpon diapun aku tidak punya. Pusaran waktu seolah menelannya. Dan tidak pernah memunculkannya kembali menyusuri kehidupan baru yang selama ini menjadi impianku. Tak ada yang pernah tahu bagaimana getir kenangan itu.
Dibiarkan airmata menitik jika kenangan itu melintas mendadak dalam benak-ku.
Dan aku tetap berharap, Ririn akan datang dengan kedua tangan terpentang, lari ke arahku lantas memeluknya.
Namun buliran waktu yang berdetak melalui himpunan detik seolah enggan menyapa. Hari demi hari. Bulan demi bulan. Semuanya berlalu tanpa terasa. Sudah tiga tahun gadis itu tidak pernah menelponku.
saya sudah tidak kuasa menahan airmata yang menyeruak. Barangkali saya terlalu cengeng dengan akhir euforia ini. Barangkali juga saya telah jatuh hati kepada Ririn. Ah, entah kapan saya dapat bertemu, dan merangkai cerita indah bersama gadis itu lagi.
Aku mendengar suara-suara masa lalu saat di bis kian nyaring memanggil. Aku terseret lagi ke tengah pusaran, terengah, dan akhirnya tersesat pada khayalan-khayalan tidak pasti.Tuk itu aku sudah berusaha menghindarinya. Kendati pun sulit!
Ya, ini memang sebuah penipuan diri. Tapi adakah jalan lain kecuali itu? hidup hanyalah sekadar mengarung waktu. Tak ada warna, tak ada gairah. Semua jadi serba samar. Menggamangkan. Dan cinta tinggal menjadi sepenggal kata kosong tak bernilai.
Aku rindu semuanya itu, Ririn. Apakah kau juga?
Kadang kala, perasaan seperti itu menyergapku. Keinginan bertemu denganmu selalu saja menyesakkan dada. Aku selalu berpikir, betapa senangnya jika kau ada bersamaku. Mengisi hari-hari kita berdua.
Kenangan bersamamu adalah saat terindah dalam hidupku. Saat di mana aku bisa menikmati semua perasaanku. Tanpa harus pura-pura menyembunyikan perasaan kita yang sebenarnya!
Lalu tiba-tiba telponku berdering, tanpa pikir panjang, langsung ku pencet keypad HP ku…. 
“ Hallo Kak…. Pa kabar??? Dah lama yah gak ketemu, jawab Ririn.
ooopz,,maaf, kelupaan memperkenalkan diri. Ni Ririn kak, masih inget gak?
“ Oh, Ririn yah? Masih sangat ingat dong. Pa kabar? jawabku
Begitulah sepengal cerita via Hp yang singkat di HP ku. Yang akhirnya kita sepakat untuk ketemu lagi.
Sekian lama aku menunggu, untuk kedatanganmu, pada siapa aku mengadu kalau bukan padamu datanglah, kedatanganmu kutunggu tlah lama, telah lama ku menunggu..
Lagu Rhoma Irama bersama Rita Sugiarto, menunggu, membuyarkan lamunanku. Lagu yang mewakili kerinduan hatiku saat itu, tak sabar lagi aku untuk bertemu dengan dia.
Diposkan oleh restu nugraha di 04:13 0 komentar
Label: kisahku